Rss

Sabtu, 30 April 2011

Tafsir Surah al-Faatihah

Desentralisasi Pendidikan Agama Islam Tentang Tafsiran Surah al-Faatihah


Al-faatihah adalah permulaan segala sesuatu. Surat ini disebut dengan faatihatul Kitaab karena al-Kitab (al-Qur-an) di mulai dengan surat al-faatihah. Inilah awal surat yang ditulis oleh penulis dalam mus-haf al-Qur-an dan awal (surat) yang dibaca oleh al-Kitab al-Aziz (al-Qur-an) ini. Namun, bukan berarti bahwa surat ini adalah surat yang pertama yang diturunkan dalam al-Qur-an.

Ada yang berkata: “Al-Faatihah adalah surat Makiyyah (yang diturunkan di Makkah atau diturunkan pada masa sebelum hijrah), tetapi ada pula yang berkata: “Al-fatihah adalah surat Madaniyyah (yang diturunkan di Madinah atau diturunkan pada masa setelah hijrah).” Surat Al-Faatihah disebut pula dengan Faatihatul Kitaab dan Ummul Kitab. Menurut hadits shahih, surat ini disebut juga dengan as-Sab’ul Matsaani, Surat al-hamd, Surat as-shalaah, dan al-Waaqiyah.




Dalam beberapa hadits disebutkan keutamaan surat al-Faatihah ini, diantaranya hadits riwayat al-Bukhari dan Ahmad dari Abu Sa’id bin Mu’alla, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saya akan mengajarimu surat yang paling besar (penting) dalam al-Qur-an.” Beliau memegang tanganku, dan setelah beliau akan keluar dari mesjid, aku berkata: “Ya, Rasulullah, bukankah engkau tadi berkata kepadaku: “saya akan mengajarimu surat paling besar (penting) dalam al-Qur-an.” Beliau berkata: “Ya, betul. Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin itu adalah as-Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang diulang-ulang) dan al-Qur-anul ‘Azhim yang telah diberikan kepadaku.”

   Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, ia berkata: “Ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam sedang menemui Jibril, tiba-tiba terdengar suara (seperti) geritan pintu dibuka di atas beliau. Maka Jibril pun melihat kelangit lalu berkata : “ini adalah salah satu pintu langit yang dibuka, yng selama ini belum pernah dibuka.” Dia berkata: “Kemudian, turun dari sana sesosok Malaikat dan mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Bergembiralah (wahai Muhammad) dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, yang belum pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelummu: Faatihatul Kitab dan ayat-ayat terakhir dari surat al-Baqarah. Jika kamu membaca satu huruf saja darinya, pasti kamu diberi cahaya itu.” (HR. Muslim dan an-Nasa-i)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

Artinya:
  1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  4. Yang menguasai di hari Pembalasan.
  5. Hanya Engkaulah yang Kami sembah dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.
  6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,
  7. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

TAFSIR


   1. Para ulama berselisih pendapat tentang basmalah ini:

  • Pendapat pertama: Basmalah adalah ayat tersendiri pada tiap-tiap surat yang ditulis pada permulaannya (kecuali surat at-Taubah).
  • Pendapat kedua: Basmalah adalah bagian ayat dari awal setiap surat. Pendapat ketiga: Basmalah dianggap bagian ayat dari awal surat al-Faatihah saja, bukan pada surat-surat yang lain.
  • Pendapat keempat: Basmalah bukan merupakan satu ayat dari semua surat, tetapi ditulis sebagai pemisah saja. Namun, mereka sepakat bahwa basmalah itu merupakan satu ayat dari surat al-Naml.

(الله)
adalah nama yang tidak dipakai kecuali untuk Allah Ta’ala, asalnya dari kata (الإله) sebelum dihilangkan (huruf hamzahnya-ed). Pada mulanya, kata ini didigunakan untuk menyebut semua sembahan yang hak atau yang bathil. Akan tetapi, kemudian kata ini dipakai untuk menyebut sembahan yang haq saja. (الرحمن الرحيم) Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang adalah dua nama yang diambil dari kata rahmah. Ar-Rahmah lebih luas cakupan kasih sayangnya dibanding dengan ar-Rahim. Ar-Rahman adalah nama yang tidak digunakan kecuali untuuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.

   1. (الحمدلله) “Segala Puji Bagi Allah”. Al-hamdu pujian dengan lisan atas kebaikan yang bebas pilih. Al-hamdu (pujian) itu hanya dengan lisan, sedangkan asy-syukru itu dengan lisan, hati, dan anggota badan. Syukur itu tidak dilakukan, kecuali sebagai imbalan dari nikmat yang diberikan, sedangkan pujian dilakukan karena kesempurnaan Dzat yang dipuji meskipun tanpa imbalan kenikmatan. Allah Ta’ala berhak menerima segala puji dan syukur. (ربّ العالمين) “Rabb Semesta Alam.” Ar-Rabb adalah salah satu nama dari nama-nama Allah Ta’ala. Tidak dikatakan selain untu Allah, kecuali dengan di-idhafah­-kan (dipadukan) dengan kata lain, misalnya rabbul manzil (pemilik rumah). Ar-Rabb dapat juga berupa pemilik, tuuan, pemburu/reformis, pengatur atau yang disembah. Al-Aalamin adalah segala sesuatu yang ada selain Allah Ta-ala. Ada yang mengatakan bahwa ‘alam itu digunakan untuk makhluk yang bisa berpikir, yaitu empat macam makhluk: manusi, jin, malaikat dan syaitan. Maka tidaklah hewan itu dikatakan dengan ‘alam (QS.Al-Faatihah:2)
   2. Telah ditafsirkan di atas. Sebab, di dalam sifat Allah sebagai Rabbil ‘alamin (yang mencipta, memiliki, dan mengatur alam semesta) itu terdapat sesuatu yang bersifat at-tarhiib (ancaman). Oleh karena itu, Dia menyandingkannya dengan sifat ar-Rahman ar-Rahim karena kedua sifat ini mengandung arti yang bersifat memberikan at-targhiib (harapan) untuk memadukan rasa takut (terhadap ancaman Allah) dan berharap (atas segala rahmat-Nya) dalam (memahami dan menyikapi) sifat-sifat-Nya sehingga lebih dapat mendorong seseorang untuk taat kepada-Nya. (QS. Al-Faatihah: 3)
   3. (ملك يوم الدين) “Yang Memiliki Hari Pembalasan” bisa dibaca dengan maliki (raja) atau maaliki (pemilik). Maka dapat dikatakan bahwa kata maliki itu lebih umum dan lebih tept daripada kata maaliki karena perintah malik (raja) itu berlaku pada pemilik dalam kerajaanya sehingga sehingga dia tidak dapat berbuat, kecuali dengan tauran yang ditetapkan malik (sang raja). Akan tetapi, ada pula yang mengatakan bahwa kata maaliki (pemilik) itu lebih tepat karena Dia (Allah) adalah pemilik manusia dan yang lainnya . sebanarnya perbedaan antara kedua sifat itu bagi Allah Ta’ala sebagai berikut: malik (raja) adalah sifat bagi Dzat Allah, sedangkan maaliki (pemilik) adalah sifat dari perbuatan-Nya.

(يوم الدين) adalah hari pembalasan dari Rabb Yang Maha Suci untuk para hamba-Nya. Dari Qatadah, ia berkata: “Yaumaddin adalah hari ketika Allah membalas para hamba-Nya atas amal perbuatan mereka.” (QS. Al-Faatihah: 4)

   1. Kami mengkhususkan ibadah hanya untuk-Mu, kami mengkhususkan permohonan pertolongan selain kepada-Mu. Dan kami tidak menyembah dan tidak memohon pertolongan selain kepada Engkau. Ibadah adalah puncak dari segala ketaatan dan ketundukan. Adapun makna ibadah dalam istilah syari’at adalah kata yang mengandung semua unsur kesempurnaan cinta, tunduk dan takut. Penyebutan kata “Kami” dalam ayat ini bertujuan untuk menyatakan kerendahan diri si pemohon dan orang lainnya, bukan untuk mengagungkan diri. Ibadah didahulukan daripada memohon pertolongan karena ibadah itu sebagai perantara (sarana) untuk mendapatkan pertolongan. Dari Ibnu ‘Abbas ra, tentang firman Allah (إيّاك نعبد وإيّاك نستعين) Maksudnya hanya kepada Engkaulah kami mengesakan dan takut, ya, Rabb kami, bukan kepada yang lain, dan hanya Kepada Engkaulah kami memohon pertolongan untuk taat kepada-Mu dalam melakukan semua urusan kami. Dari Qatadah ra, beliau berkata: “Allah memerintahkan kepada kalian untuk memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan memohon petolongan kepada-Nya dalam melakukan semua urusan kalian.”

    2. Al-hidayah adalah petunjuk atau taufik (untuk melakukan ketaatan). Seseorang yang telah mendapat petunjuk, tetapi masih memohon petunjuk berarti dia memohon tambahan petunjuk, seperti firman Allah Ta’ala:
“Dan orang-orang yang mendapatkan petunjuk, Allah menambah mereka dengan petunjuk …” (QS. Muhammad: 17).

Jalan yang lurus menurut arti bahasa adalah jalan yang tidak berkelok-kelok, sedang yang dimaksud dengan ayat ini adalah jalan Islam. Ahmad dan at-Tarmidzi meriwayatkan hadits dari an-Nawwaz bin Sam’an, dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah membuat perumpamaan jalan yang lurus itu bagaikan jalan yang di kedua sisinya terdapat dua pagar. Di sana terdapat beberapa pintu yang terbuka. Pada pintu itu terpasang tabir-tabir (gorden) panjang dan pada ambang pintu jalan lurus itu ada seorang menyeru: “Wahai, manusia, masuklah kamu sekalian ke jalan itu dan janganlah berbelok.” Ada pula penyeru lain di jalan itu, penyeru itu berkata: “Celaka kamu, janganlah kamu buka, karena jika kamu membukanya, pasti kamu masuk kedalamnya.” Adapun shirat (jalan) itu adlah Islam, dua pagar itu adalah batas-batas (hukum-hukum) Allah, pintu-pintu terbuka itu adalah segala yang diharamkan Allah, penyeru diambang pintu jalan adalah Kitab Allah (al-Qur-an), danpenyeru di atas jalan itu adalah penasehat Allah yang ada dalam hati setiap manusia.” (QS. Al-Faatihah: 6)

 1. (صراط الذين أنعمت عليهم ) Yaitu, jalan orang-orang yang telah Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka, yang disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 69dan 70 dalam firman Allah:

“Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiiqiin (teguh keimanannya), orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah dan Allah cukup mengetahui.” (QS. An-Nisa’: 69-70) (غيرالمغضوب عليهم) “bukan mereka yang dimurkai.” Yaitu orang-orang yahudi, (ولا الضآلّين) “dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,” yaitu orang-orang Nasrani. Maksudnya, kaum Yahudi sesungguhnya mengetahui kebenaran, tetapi mereka meninggalkannya dan melenceng dari kebenaran itu walaupun mereka tahu, maka mereka berhak mendapat murka dari Allah; sedangkan kaum Nasrani melenceng dari kebenaran karena tidak mengetahuinya, maka mereka itu berada dalam kesesatan yang jelas tentang ‘Isa as. Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah bahwa sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kaum yahudi itu tidak dengki kepada kamu sekalian atas sesuatu seperti kedengkian mereka terhadap salam (ucapan salam) dan ta’miin (mengucapkan amin).” Arti amiin adalah: “Ya, Allah, kabulkanlah do’a kami.” (QS. Al-Faatihah: 7).
Disalin dari Zubdatut Tafasiir min Fathil Qadir (juz ‘Amma)  Syaikh Dr Muhammad Sulaiman ‘Abdullah al-Asyqar.

0 komentar:

Poskan Komentar